KITA TIDAK LAHIR DARI RUANG KOSONG; HIJRAH ADALAH KENISCAYAAN

 


INDOFOKUSNEWS.WEB.ID

CATATAN MUHARRAM 1448 H

_Oleh: Iyus Khaerunnas Malik_

Manusia tidak lahir dalam ruang hampa. Ia lahir di tengah zaman yang bergolak, penuh dialektika antara aman dan perang, damai dan kacau. Sejarah membuktikan bahwa perubahan adalah sunnatullah. Karena itu, hijrah bukan pilihan, melainkan keniscayaan. Tulisan ini membahas urgensi hijrah—fisik maupun spiritual—sebagai paket utuh bersama iman dan jihad, meneladani para Nabi, Rasul, dan teladan seorang Ummahat Mujahidah, serta merumuskan langkah konkret menghadapi disrupsi akhir zaman.

 

Sadarkah kita... bahwa kita lahir ke dunia tidak dalam ruang kosong. Ruang yang melingkupi kita gegap gempita dengan berbagai macam persoalan. Ruang itu adalah zaman yang sedari dulu mengandung sumbu dan energi perubahan. Kita yang lahir ke dunia seolah menjadi manusia "pilihan" sebagai pionir perubahan, setidaknya berdamai dengan perubahan.


Kata perubahan dalam bahasa Arab disebut _taghyir_—perubahan evolutif, normal, bertahap & konstruktif. Atau _inqilab_—perubahan revolutif, cepat & destruktif. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata _change_.


Perhatikan sejarah peradaban manusia: suasana damai selalu hadir setelah peperangan, demikian juga sebaliknya. Seolah terjadi dialektika sejarah yang tumpang tindih, mengalami _tesa, antitesa, dan sintesa_ seterusnya.


Sahabat Ali bin Abi Thalib R.A. berpesan:  


أَدِّبُوا أَوْلَادَكُمْ فَإِنَّهُمْ خُلِقُوا لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ  


_"Didiklah anak-anakmu karena sesungguhnya mereka lahir di zaman yang berbeda dengan zaman kalian."


Orang tua, kakek dan buyut kita dahulu menghadapi zaman yang berbeda dengan zaman kita. Mereka hidup di Nusantara dengan sistem kerajaan atau kesultanan, mengalami suasana aman, damai dan sejahtera. Lalu diintervensi penjajah—Portugis, Belanda—yang membawa tradisi, budaya & kepercayaan baru yang memporakporandakan suasana batiniah masyarakat, hingga merampas aset milik rakyat. Akhirnya rakyat melawan dan berjibaku mengusir penjajah. Perang pun pecah, kekacauan melanda, kedamaian berganti dengan kegetiran, ketakutan dan kengerian.


Sesuai firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 140:  


وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ  


_"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia."_


Jika situasi seperti itu yang kita hadapi—selalu dipergilirkan dalam fase aman, damai, kacau, perang—maka mental kita harus siap, yakni mendudukkan nilai-nilai spiritualitas: keimanan & ketaqwaan di atas segalanya. 


Sebagaimana ucapan Syaikh Ahmad Syauqi Bek:  


قف دون رأيك في الحياة مجاهدا،  إن الحياة عقيدة و جهاد  


_"Tetaplah pada pendirianmu dalam hidup ini sebagai seorang mujahid, karena sesungguhnya hidup ini adalah pertaruhan akidah dan jihad."_


Karena itu tiga kata dalam Al-Qur’an: IMAN, HIJRAH dan JIHAD merupakan satu kesatuan paket; tak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Anfal: 74:  


وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ  


_"Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang menyediakan sarana (tempat yang aman) untuk membantu para pengungsi, mereka itulah sebenar-benarnya beriman. Bagi mereka ampunan yang besar dan rezeki yang mulia."_


Hijrah secara fisik berarti _berpindah_ dari satu negeri ke negeri lain هَجَرَ مِنْ بَلَدٍ إِلَىٰ بَلَدٍ آخَرَ atau satu tempat ke tempat lain. Secara spiritual, Rasulullah SAW bersabda:  


المهاجر من هجر ما نهى الله عنه  


_"Sang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."_ [HR. Bukhari dan Muslim]  


Artinya: meninggalkan segala keburukan & kemaksiatan.


Menengok _Qashul Anbiya_, para Nabi dan Rasul pun semua berhijrah:  


1. Nabi Adam a.s. berkeliling dari satu benua ke benua lain.  


2. Nabi Nuh a.s. pasca banjir menepi dari satu pantai ke pantai lain untuk menurunkan regenerasi dakwah tauhid.  


3. Nabi Ibrahim a.s. bergerak dari Mesopotamia ke Babilonia hingga ke Makkah dalam rangka mengabdi kepada Allah Azza wa Jalla, berdakwah dan membangun peradaban tauhid dengan spirit _hanifan muslima_.  


4. Nabi Musa a.s. berpindah dari Mesir ke Palestina untuk menyelamatkan Bani Israel dan membina aqidah, ibadah & dakwah di tempat yang aman.  


5. Nabi Isa a.s. berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka dakwah dan menyelamatkan murid-muridnya dari ancaman Romawi serta Yahudi pengkhianat.  


6. Nabi Muhammad SAW  nyata-nyata berhijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) untuk menyelamatkan program pembinaan aqidah, ibadah dan dakwah, sekaligus membangun teritorial pelaksanaan syariat Islam yang berdaulat dalam bingkai jama’ah, terbentuknya peradaban _Darussalam_ hingga akhir zaman.


Menengok sedikit ke ujung Sumatra yakni Kesultanan Aceh Darussalam, ruh hijrah tidak hanya diemban para Nabi, para sahabat & umat Islam pada umumnya. Seorang perempuan Aceh bernama Keumalahayati telah membuktikan bahwa hijrah adalah keniscayaan bagi setiap jiwa yang beriman, tanpa dibatasi gender dan status. Ketika suaminya Syahbandar Malahayati gugur syahid di medan perang melawan Portugis tahun 1585 M, beliau tidak memilih meratap dalam ruang kosong duka. Beliau hijrah. Hijrah dari status putri bangsawan istana, menuju geladak kapal yang berguncang ombak. Hijrah dari air mata seorang janda, menjadi komando 1000 mujahidah Inong Balee yang dilatihnya sendiri. Inilah makna hijrah spiritual: المهاجر من هجر ما نهى الله عنه. Beliau meninggalkan kelemahan, meninggalkan pasrah, lalu berlari menuju amanah Allah Azza wa Jalla.


Hijrah Malahayati adalah hijrah kapasitas. Zaman boleh berganti dari zaman keris ke zaman meriam, dari zaman kesultanan ke zaman disrupsi. Tapi pesan Ali bin Abi Thalib R.A tetap berlaku: _mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zaman kita_. Malahayati lahir di zaman penjajah menginjak kedaulatan Aceh. Maka beliau tidak cukup hanya berijazah sebagai putri bangsawan. Beliau menuntut 'izzah dengan menimba ilmu di Baitul Maqdis Aceh, mengasah kemahiran bahari, hingga berani berduel satu lawan satu dengan Laksamana Belanda Cornelis de Houtman di Selat Malaka tahun 1599 M. Duel itu dimenangkannya. Belanda kaget, dunia terperangah: ternyata 'izzah tidak diukur dari gelar, tapi dari keberanian membela tauhid. Maka benarlah firman Allah QS. Al-Anfal: 74. Malahayati telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Maka Allah berikan padanya ampunan dan rezeki yang mulia, berupa nama yang harum hingga 400 tahun setelah wafatnya. Kuburnya di Bukit Kota, Krueng Raya, Aceh Besar, menjadi saksi bahwa perempuan yang berhijrah karena Allah, tidak akan pernah mati jasan


Apa ibrah yang bisa kita petik dari hijrah Laksamana Malahayati untuk menghadapi disrupsi akhir zaman? Pertama, *hijrah dimulai dari luka yang diserahkan kepada Allah*. Malahayati tidak mengubur kesedihan, tapi ia alihkan menjadi energi jihad. Kedua, *hijrah menuntut upgrade kapasitas, bukan sekadar legalitas*. Beliau tidak puas dengan gelar "putri", tapi menuntut ilmu navigasi, strategi perang, dan kepemimpinan di Baitul Maqdis. Ketiga, *hijrah adalah kerja jama’i*. Beliau tidak berjuang sendiri. Beliau bangun pasukan Inong Balee—kekuatan ukhuwah para janda syuhada. 


Maka relevanlah 5 langkah hijrah akhir zaman yang akan kita rumuskan. Bukankah Malahayati telah mempraktikkannya 4 abad lalu? Beliau kuatkan iman dengan niat jihad fi sabilillah. Beliau bangun jama’ah Inong Balee. Beliau asah fisik dengan berlayar dan berperang. Beliau jaga ukhuwah dengan para syuhada. Dan beliau mantapkan 'azzam sampai titik darah penghabisan demi kedaulatan Darussalam. 


Jika seorang perempuan di zaman meriam dan layar kayu sanggup berhijrah sedemikian rupa, maka malulah kita yang hidup di zaman informasi tapi masih takut berhijrah dari maksiat, dari rebahan, dari zona nyaman. Karena ingat, zaman boleh lebih buruk dari sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi SAW. Tapi orang yang terus berhijrah, derajatnya akan terus naik di sisi Allah.


Jika demikian, maka hijrah adalah keniscayaan bagi setiap muslim, terlebih dalam situasi akhir zaman yang rentan terhadap disrupsi—perubahan ekstra cepat yang tak terkendali, baik politik, ekonomi, maupun militer.


Hampir-hampir perang dunia ke-3 terbelalak di depan mata. Konflik global berpotensi menggiring para sekutu masing-masing untuk terlibat. Masing-masing siap dengan rudal berhulu ledak nuklirnya. Boleh jadi perang nuklir tak terhindarkan, banyak negara luluh lantak dan korban bergelimpangan. Mungkin inilah yang disebut _dukhan_ di akhir zaman: ledakan dahsyat yang menutupi langit. Na’udzbillah.


Semua ini sudah diprediksi Nabi SAW dalam berbagai kitab Hadits, khususnya _Babul Fitan_: bab ragam fitnah di akhir zaman. Nabi SAW bersabda:  


اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ  


_"Bersabarlah... karena sesungguhnya tiada zaman yang datang kepada kalian kecuali masa sesudahnya bakal lebih buruk dari masa sebelumnya hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian."_ [HR. Bukhari dari Anas bin Malik R.A.]


Lalu apa yang mesti kita lakukan? Ada 5 langkah:


1. Pembinaan dan Penguatan Iman

   Perkuat secara pribadi dengan ta’lim, doa, tilawah Al-Qur’an, zikir, dan ibadah. Iman adalah benteng pertama.


2. Bangun Kekuatan Jama’ah

   Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib R.A: 


   وَمَجَالِسَةُ الصَّالِحِينَ الْفُضَلَاءِ  


   _"Dan berhimpun bersama orang-orang yang shalih dan mulia."_  

   Dikuatkan QS. Al-Kahfi: 28:  


   وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ...  


   _"Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya tiap pagi dan sore, semata mengharap wajah-Nya..."_  


   Ditambah QS. Ali Imran: 103. Sambil berupaya kerja jama’i untuk persiapan ketahanan pangan berbasis ketahanan iman.


3. Mengasah Kekuatan Fisik

   Latih beladiri, memanah, berkuda & berenang—sebagaimana sunnah Nabi SAW. Optimalkan kemampuan tempur. Bila perlu bekerja sama dengan aparat TNI untuk menguasai dasar-dasar militeristik, atau ikut program barak militer "bela negara".


4. Membangun Kekuatan Ukhuwah

   Baik internal jama’ah maupun luar jama’ah. Pahami _fiqhud dakwah_ secara mendalam, khususnya dalam interaksi sosial: menghadapi teman dari kalangan _in group_ maupun _out group_.


5. Memantapkan Azzam

   Bila sudah tiba waktunya dan jelas tentang kehadiran sosok Al-Mahdi, segera berbai’at dan menjadi pengikutnya. Ini hijrah paling agung di akhir zaman.


PENUTUP

Mari selalu memantapkan diri untuk senantiasa berhijrah. Tiada hari tanpa hijrah dari hal-hal negatif, sembari terus meraih dan meningkatkan hal-hal positif dalam hidup & kehidupan kita, sesuai kaidah fiqhiyyah:  

الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الْأَصْلَحِ  

_"Mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik."_


Hijrah adalah keniscayaan. Karena kita tidak lahir dari ruang kosong. Kita lahir untuk berubah, untuk lebih baik, menuju Allah.


Penulis adalah Pembina Da'i Antar Bangsa & Pengasuh Bumi Tafakur Cijeruk Bogor_

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama